Recent Posts

29 Koleksi Museum Bank Indonesia dan Penjelasannya oleh - sejarahmajapahit.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sejarahmajapahit.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar 29 Koleksi Museum Bank Indonesia dan Penjelasannya oleh - sejarahmajapahit.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Museum Bank Indonesia berlokasi di depan stasiun Beos Kota, jalan Pintu Besar Utara no. 3, Jakarta Barat. Bangunan museum yang pertama kali dibangun pada tahun 1828 ini memiliki gaya neo klasikal bercampur pengaruh lokal. Pada tahun 1625 di tempat ini pernah dibangun gereja sederhana untuk digunakan umat Protestan. Kemudian pada tahun 1628 gedung mengalami pembongkaran karena dialih fungsikan sebagai tempat menyimpan meriam besar yang digunakan dalam perang antara tentara Sultan Agung dengan tentara Belanda di Batavia. Gedung museum BI sebelumnya adalah tempat De Javasche Bank beroperasi.

Sebelumnya gedung dalam sejarah museum bank indonesia ini juga digunakan sebagai rumah sakit umum yang bernama Binnen Hospitaal. Gedung ini digunakan sampai tahun 1962 ketika De Javasche Bank mengalami proses nasionalisasi menjadi Bank Sentral Indonesia atau Bank Indonesia pada 1853. Setelah itu Bank Indonesia pindah menempati gedung baru di Thamrin, Jakarta Pusat. Gedung ini sejak saat itu tidak digunakan dan dibiarkan dalam keadaan kosong. Karena sisi sejarahnya yang tinggi dan menjadi bagian dari sejarah kota tua jakarta, maka dari itu bangunan tersebut ditetapkan pemerintah sebagai bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan dalam sejarah jakarta. Museum Bank Indonesia diresmikan pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur BI saat itu, Burhanudin Abdullah.

Koleksi Museum

Menurut data yang ada, koleksi museum Bank Indonesia berjumlah 750.000 buah dan sebagian besarnya berupa koleksi uang. Beberapa jenis uang yang menjadi koleksi museum antara lain:

Uang Kertas

Koleksi Museum Bank IndonesiaUang kertas yang menjadi bagian dari koleksi museum Bank Indonesia ini ada sangat banyak macamnya, beberapa contohnya adalah :

  1. Uang ORI (Oeang Republik Indonesia) Emisi I pecahan setengah rupiah tertanggal 17 Oktober 1945, masa sebelum RIS berbahan kertas dan ditandatangani oleh Mr. A. A. Maramis. Diterbitkan pada 30 Oktober 1946 dan ditarik pada 1 Mei 1950.
  2. Uang kertas Bank Indonesia seri Dwikora, tahun 1964 dalam nilai pecahan 5 sen yang ditandatangani oleh Jusuf Muda Dalam dan Hertatijanto, diterbitkan 13 Desember 1965 dan ditarik pada 15 November 1996.
  3. Uang ORI Emisi II Djokjakarta 1 Januari 1947 pecahan 25 rupiah yang ditandatangani oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Ditarik pada tanggal 1 Mei 1950.
  4. Uang ORI Emisi III Djokjakarta 26 Juli 1947 yang ditandatangani oleh Mr.A.A.Maramis sebesar dua setengah rupiah dan ditarik tanggal 1 Mei 1950.
  5. Uang kertas Bank Indonesia Emisi 1952, 1975, 1977, 1979, 1980, 1982,1984, 1985, 1986,1987, 1988, 1992, 1993, 1995, 1998, 1999, 2000, 2001.
  6. Uang kertas Pemerintah Republik Indonesia Serikat
  7. Uang kertas Bank Indonesia seri Hewan, Pekerja Tangan, Soedirman, Presiden Soekarno, Bunga dan Burung, Dai Nippon Teikoku Seihu, seri De Javasche Bank Wayang, De Javasche Regeering,
  8. Uang kertas pemerintah KR seri Soekarno pecahan 2,5 rupiah diterbitkan pada 15 Oktober 1963, ditarik pada 30 Juni 1964.
  9. Uang kertas pemerintah IB seri Soekarno pecahan 1 rupiah ditandatangani oleh R.M.Notohamiprodjo. Diterbitkan pada 1 Mei 1963 dan ditarik pada 31 Mei 1971.
  10. Koleksi museum Bank Indonesia yang khusus berupa uang kertas Bank Indonesia emisi 1993 pecahan 50 ribu rupiah, bergambar Presiden Soeharto dan diterbitkan pada 1 Maret 1993 dan ditarik pada 2 Agustus 2000. Ketahui juga mengenai sejarah berdirinya bank Syariah di Indonesia dan sejarah bank Islam.

Uang Logam

Koleksi di Museum Bank Indonesia

  1. Uang logam RI emisi 1951 sebesar 5 sen, bulat dan berlubang di tengahnya berbahan alumunium.
  2. Uang logam RI emisi 1952 sebesar 1 sen berbentuk bulat dan berlubang di tengah. Tanggal penerbitan tidak diketahui namun ditarik pada 31 Desember 1966.
  3. Uang logam RI emisi 1952 sebesar 50 sen dengan bentuk bulat utuh tanpa lubang di tengahnya berbahan cupro nikel. Ditarik pada 31 Desember 1966.
  4. Uang logam RI emisi 1955 sebesar 25 sen berbahan alumunium berbentuk bulat pipih tanpa lubang, diterbitkan pada 1955 dan ditarik pada 31 Desember 1966.
  5. Uang logam emisi 1959 berbahan tembaga berbentuk bulat pipih sebesar 50 sen. Diterbitkan pada 1959 dan ditarik pada 31 Desember 1966.
  6. Uang logam RI emisi 1970 dengan pecahan 5 rupiah berbahan alumunium. Diterbitkan pada 1 Januari 1971 dan ditarik pada 25 Juni 2002.
  7. Uang logam RI emisi 1971 berbahan cupro nikel senilai 10 rupiah dan ditarik pada 15 November 1996.
  8. Uang logam emisi 1973, 1974, 1978, 1979, 1991, 1993, 1997, 1999.
  9. Uang gobong Majapahit, uang Kerajaan Jambi, uang Krishnala, uang real batu dari kerajaan Sumenep, uang Gobog dari Banten. Ketahui mengenai sejarah berdirinya bank sentral dan sejarah berdirinya bank Syariah.

Uang Logam Khusus

Koleksi museum Bank Indonesia berupa uang logam khusus yang terdiri dari beberapa jenis seperti berikut.

  1. Uang logam khusus BI emisi 1970 senilai 10 ribu rupiah berbahan emas, dan diterbitkan pada 17 Agustus 1970.
  2. Uang logam khusus BI seri cagar alam tahun 1974 senilai 5000 rupiah berbahan perak, dan emisi 1987 senilai 200 ribu rupiah berbahan emas, diterbitkan pada 1 Oktober 1987.
  3. Uang logam khusus BI seri Save The Children fund tahun 1990
  4. Uang logam khusus BI seri For The Children of The World
  5. Uang logam khusus BI seri Demokrasi tahun 1995 senilai 300 ribu rupiah berbahan emas dengan bentuk bulat pipih dan diterbitkan pada 16 Agustus 1995.
  6. Uang logam khusus BI seri Presiden RI tahun 1995 senilai 850 ribu rupiah berbentuk bulat pipih dan berbahan emas, diterbitkan pada 16 Agustus 1995.

Selain koleksi museum Bank Indonesia berupa uang yang pernah beredar di Indonesia, ada pula koleksi yang lain yaitu:

  1. Mata uang yang diterbitkan oleh daerah â€" daerah di Indonesia ketika bank sentral belum berfungsi dengan baik. Wilayah â€" wilayah tersebut adalah Sumatera Utara, Jambi, Magetan, Aceh, Sumatera Selatan, Kedu.
  2. Instalasi yang merekonstruksi suasana bank zaman kolonial dengan mendetil hingga terlihat hidup, juga terdapat diorama kisah seputar krisis moneter pada tahun 1998 dan pemulihan stabilitas moneter menggunakan patung â€" patung yang sangat mirip dengan bentuk manusia aslinya.
  3. Koleksi â€" koleksi di museum Bank Indonesia berupa emas batangan yang diperlihatkan untuk umum.
  4. Koleksi uang dari luar negeri.

Daerah Kota memang telah dirancang sebagai pusat pengembangan kota lama di Jakarta karena memiliki banyak gedung tua yang menjadi cagar budaya peninggalan sejarah. Bank Indonesia diharapkan dapat menjadi pelopor dari revitalisasi dan pemulihan serta pemeliharaan gedung bersejarah di area Kota dengan museum tersebut. Keberadaan Museum Bank Indonesia diharapkan akan mengamankan aneka benda yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber informasi perjalanan Bank Indonesia dalam sejarah.

Selain itu, museum juga diharapkan bisa menjadi penyambung komunikasi antara BI kepada masyarakat. Pendirian museum dan koleksi museum BI juga akan menunjang perkembangan kawasan kota lama sebagai tujuan wisata di DKI Jakarta. Keberadaan museum dan koleksi museum Bank Indonesia juga diharapkan dapat menunjang keberadaan museum yang lebih dulu ada  di kawasan kota Tua Jakarta . Museum â€" museum tersebut antara lain Museum Fatahillah Jakarta, Museum Wayang, Museum Keramik, juga Sejarah Museum Bahari.

Museum diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan dan penelitian bagi kalangan masyarakat Indonesia terutama bagi para generasi muda dan juga bagi kalangan Internasional mengenai apa saja fungsi dan tugas BI sebagai bank sentral Indonesia. Selain itu keberadaan  museum juga diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi mengenai kebijakan â€" kebijakan perbankan dan juga menjadi wahana rekreasi edukatif. Pencapaian tujuan â€" tujuan tersebut dengan lancar diharapkan akan dapat membantu meningkatkan corporate image Bank Indonesia.

Itulah tadi informasi dari slot online indonesia mengenai 29 Koleksi Museum Bank Indonesia dan Penjelasannya oleh - sejarahmajapahit.xyz dan sekianlah artikel dari kami sejarahmajapahit.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Monday, July 27, 2020

Mengenal Sosok dan Situs Makam Aria Baya oleh - sejarahmajapahit.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sejarahmajapahit.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Mengenal Sosok dan Situs Makam Aria Baya oleh - sejarahmajapahit.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Masuknya Islam di Jawa Barat

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia tidak terlepas dari para pedagang yang berasal dari tanah Arab. Karena para pedagang Arab selain melakukan perdagangan, mereka juga menyebarkan agama Islam di Indonesia. Bisa dibilang mereka berprofesi ganda, yaitu sebagai pedagang dan da’i.

Termasuk pula masuknya agama Islam ke Jawa Barat juga melalui jalur perniagaan. Daerah Cirebon, Banten, dan Sunda Kelapa merupakan pusat masuknya ajaran agama Islam di Jawa Barat. Daerah Cirebon secara geografis berada di pesisir utara Jawa, atau di tepi pantai sisi sebelah timur ibu kota Pajajaran. Sedangkan daerah Banten, memiliki pelabuhan yang sangat strategis jika dilihat dari letak geografis dan ekonominya. Pelabuhan ini menjadi mata rantai dalam perdagangan dan pelayaran di bagian barat Pulau Jawa dan di bagian selatan Sumatera.

Daerah Sunda Kelapa juga menjadi salah satu daerah masuknya agama Islam ke Jawa Barat. Hal ini dibuktikan bahwa Sunda Kelapa adalah kota pelabuhan yang indah dan ramai dikunjungi para pedagang. Awal mulanya, Sunda Kelapa merupakan pusat pelabuhan Kerajaan Sunda, kemudian Sunda Kelapa diduduki oleh pasukan kerajaan Islam yang berasal dari Cirebon dan Demak di bawah pimpinan Faletehan (1527). Setelah Sunda Kelapa berhasil diduduki oleh pasukan kerajaan Islam yang berasal dari Cirebon dan Demak, Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta.

Baca juga  Sejarah Kerajaan Demak

Sejarah masuknya agama Islam di Jawa Barat tidak terlepas dari penyebaran Islam di tanah Jawa secara umum yang dilakukan oleh Sembilan Wali atau juga dikenal dengan sebutan Wali Songo. Salah satu dari kesembilan wali yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa Barat adalah Sunan Gunung Djati. Sunan Gunung Djati adalah seorang raja dan juga seorang wali. Sunan Gunung Djati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah.Gerakan Islamisasi oleh Sunan Gunung Djati dilakukan dengan pendekatan agama, politik, ekonomi, dan secara kultural atau melalui kebudayaan. Sebelum Sunan Gunung Djati menyebarkan agama Islam di tanah Jawa Barat, ternyata sudah ada gerakan dalam penyebaran Islam di Jawa Barat. Gerakan ini dipelopori oleh Syekh Quro dan Syekh Nurjati.

Pada tahap awal, penyebaran agama Islam di Jawa Barat dilakukan oleh dua guru agama Islam yaitu Syekh Quro di Karawang dan Syekh Nurjati di Amparan Jati yang saat ini merupakan kawasan Gunung Jati. Penyebaran agama Islam yang semulanya berlangsung dari mulut ke mulut, kemudian berkembang menjadi sebuah lembaga, yaitu pesantren. Syekh Quro dan Syekh Nurjati membangun pesantren di kawasan permukimannya masing-masing. Seiring berjalannya waktu, selain Syekh Quro dan Syekh Nurjati terdapat beberapa ulama yang ikut menyebarkan ajaran agama Islam di Jawa Barat. Salah satu ulama tersebut adalah Aria Baya atau juga dikenal dengan sebutan Mbah Aria.

Mengenal Sosok Aria Baya

Aria Baya adalah keturunan dari Raden Angga Dipa. Namun sampai dengan saat ini belum ada penjelasan mengenai silsilah keturunan Raden Angga Dipa. Yang diketahui hanyalah Aria Baya merupakan anak ke-22 dari Raden Angga Dipa.

Baca juga Sejarah Wali Songo

Silsilah keluarga Aria Baya menunjukkan bahwa Aria Baya adalah keturunan keluarga Sukapura. Saat itu, Sukapura merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat. Konon terbentuknya pemerintahan di Sukapura berkaitan erat dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Pemerintahan Sukapura terbagi dalam tiga periode, yaitu:

  1. Periode Sukapura (1632 â€" 1628).
  2. Periode Manonjaya (1829 â€" 1901).
  3. Periode Tasikmalaya (1901 â€" sekarang).

Kabupaten Sukapura bediri setelah Perang Dipati Ukur pada tanggal 16 Juli 1632, yang tertuang dalam Piagam Sultan Mataram. Aria Baya adalah keturunan keluarga Sukapura yaitu dari Dalem Wiria Wangsa yang menjadi bupati pertama Sukapura. Bupati Sukapura I diangkat menjadi bupati oleh Sultan Mataram pada tahun 1632-1674 dan diberi gelar Raden Tumenggung Wiradadaha yang memiliki arti prajurit yang gagah perkasa, serta berani dalam membela keadilan dan kebenaran.

Setelah Bupati Sukapura I tidak menjabat lagi sebagai bupati, maka jabatan tersebut diduduki oleh Dalem Tambela. Kemudian jabatan sebagai bupati diteruskan oleh Raden Angga Dipa. Raden Angga Dipa dikenal dengan sebutan Dalem Sawidak. Sebutan ini menunjukkan bahwa Raden Angga Dipa memiliki 62 orang putra dan putri dari beberapa orang istri. Pada masanya, Sukapura pernah mengalami masa kejayaannya. Hal ini dibuktikan dengan pesatnya kemajuan dan keberhasilan Kabupaten Sukapura pada masa pemerintahan Raden Angga Dipa.

Baca juga Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia

Pada masa pemerintahan Raden Angga Dipa, Kabupaten Sukapura menjadi pusat gerakan Tarekat Satariyah di Asia Tenggara. Ulama besar pemimpin gerakan Tarekat Satariyah yang setia mendampingi Raden Angga Dipa dalam menjalankan pemerintahan yaitu Syekh Abdul Muhyi. Raden Angga Dipa mampu menjadi penopang syiar agama Islam yang berjalan tanpa menimbulkan gejolak dan konflik. Raden Angga Dipa wafat pada tanggal 9 Mei 1726 dan dimakamkan di Baganjing Sukaraja, berdampingan dengan makam Raden Tumenggung Wiradadaha I yang merupakan bupati pertama Sukapura.

Situs Makam Aria Baya

Bagi kebanyakan orang, makam merupakan tempat yang menyeramkan. Tapi beberapa situs makam yang ada di Indonesia memiliki nilai wisata religi yang tinggi. Salah satunya adalah situs makam Aria Baya. Situs makam Aria Baya berlokasi di Desa Pasir Angin, Cipayung, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Untuk mencapai lokasi situs makam Aria Baya, wisatawan dapat menempuh perjalanan dari Kota Cibinong. Kemudian jalan menuju arah selatan kurang lebih sejauh 26 kilometer. Medan yang dilalui salah satunya adalah dengan menyusuri sungai Ciburial yang berada di sebelah barat dengan alur jalan yang berliku-liku pada sebuah perbukitan.

Situs makam Aria Baya dibangun oleh ahli waris Aria Baya sendiri. Dari kejauhan, bangunan makam Aria Baya terlihat sangat indah, megah, dan mewah. Makam Aria Baya dibangun di atas tanah wakaf almarhum H. Aceng atau yang terkenal dengan nama Abuya Ciratim. Luas tanah pada bangunan makam Aria Baya adalah 700 meter persegi. Sedangkan luas bangunan makam Aria Baya berukuran 20×30 meter yang memiliki lantai keramik. Pada bangunan makam juga terdapat kuba yang menjulang tinggi. Diperkirakan kuba tersebut memiliki diameter sekitar 10 meter.

Situs makam Aria Baya juga dilengkapi fasilitas tempat parkir seluas 2000 meter persegi dan juga warung-warung yang berjajar sepanjang 100 meter. Warung-warung tersebut ada yang menjual makanan, minuman, bahkan perlengkapan ritual dan penyampaian pesan seperti buku-buku doa, seperangkat alat sholat, persesajian berupa dupa, kemenyan, air, dan lain sebagainya. Selain warung, terdapat juga tempat beristirahat bagi para wisatawan. Berdasarkan juru kunci makam Aria Baya, jenis makam ini adalah makam keramat yang selalu banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk berziarah atau melakukan ritual lainnya. Aktivitas keagamaan seperti pengajian pada hari Sabtu pagi dan membaca Al-Quran pada hari Jumat malam juga rutin dilakukan di makam Aria Baya.

Artikel terkait:

Itulah tadi informasi dari idn poker mengenai Mengenal Sosok dan Situs Makam Aria Baya oleh - sejarahmajapahit.xyz dan sekianlah artikel dari kami sejarahmajapahit.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Sunday, July 26, 2020

Definisi, Sejarah dan Filosofi Rokok Didunia oleh - sejarahmajapahit.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sejarahmajapahit.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Definisi, Sejarah dan Filosofi Rokok Didunia oleh - sejarahmajapahit.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Karena secara umum, kita hanya mengetahui efek negatif dari rokok. Efek negatif itulah yang menutupi banyak pertanyaan di benak kita, bahwa bagaimana sih sejarah rokok itu? Tak salah jika kita menambah wawasan kita mengenai sejarah rokok itu bukan? Nah, ketika beberapa pertanyaan tersebut muncul di benak Anda, sebenarnya bisa saja langsung dijawab dengan cepat. Karena di jaman yang serba canggih ini, Anda bisa langsung browsing atau googling alias tanya sama ‘Mbah Google’, bagaimana sejarah rokok itu. Nah, kali ini kita akan membahas bagaimana sejarah rokok terjadi. Tapi, sebelum kita kembali ke masa lalu untuk mengetahui sejarah rokok, ada baiknya kita tahu dan paham dulu, apa itu rokok.

Definisi Rokok

Berdasarkan Wikipedia, rokok merupakan kertas yang berbentuk silinder atau tabung dengan memiliki ukuran panjang 70 sampai 120 mm. ukuran panjang ini tergantung dari variasi merk, dan juga tempat produksinya. Namun, pada umumnya rokok memiliki ukuran diameter sekitar 10 mm. Tabung atau silinder yang terbuat dari kertas itu berisi beberapa potongan daun yang sudah dicacah dan dimasukkan ke dalam silinder tersebut. Nah, kertas sebagai pembungkusnya disebut sebagai viper.

Baca juga: Sejarah Burung Garuda

Rokok tersebut akan dibakar pada salah satu ujung yaitu bagian ujung depan rokok dan dibiarkan hingga bara api ini membakar sisa kertas yang membungkus potongan-potongan kecil tembakau. Dengan membakar kertas dan tembakau tersebut, rokok tersebut akan menghasilkan asap yang mana akan dihirup oleh mulut melalui ujung bagian belakang rokok. Kemudian, asap tersebut akan dikeluarkan dari mulut atau bahkan melalui hidung.

Pada umumnya, pemasaran rokok ini dikemas dalam bentuk kotak yang berbungkus. Selain berbentuk kotak yang berbungkus, rokok ada juga yang dikemas dengan menggunakan kertas yang mana fungsinya agar lebih mudah dimasukkan ke dalam kantong baju. Biasanya rokok yang dibungkus dengan kertas ini merupakan rokok kretek tanpa filter. Rokok kretek tanpa filter inilah yang sebenarnya merupakan rokok asli buatan Indonesia sebagai ciri khas dari Indonesia. Dan kebanyakan rokok yang terbungkus dari kertas ini adalah rokok lama atau rokok jaman dahulu. Rokok dengan filter yang terbuat dari spon atau busa inilah yang merupakan rokok dari tradisi luar negeri.

Nah, berbeda dengan tahun-tahun kemarin, bahwa beberapa tahun terakhir ini, bungkusan rokok mulai diisi dengan pesan-pesan kesehatan dan bahaya dari menghisap rokok seperti kanker, paru-paru, atau serangan jantung. Hal ini diajukan karena adanya undang-undang tentang peraturan merokok, di fasilitas umum dan juga pribadi. Ya, walaupun sudah banyak pesan yang tertera pada bungkus rokok, tetap saja para perokok masih menjadi perokok aktif. Itu berarti bahwa pesan-pesan tersebut hanya sebagai hiasan bungkus semata.

Sejarah Rokok

Menurut sejarah dunia tentang rokok, bahwa pertama kali yang menggunakan rokok adalah orang-orang dari suku-suku asli di Amerika. Suku-suku tersebut diantaranya suku Indian, Maya dan juga Aztec. Sampai pada akhir abad ke-15, belum ada sama sekali yang mengetahui tanaman tembakau ini. Hanya penduduk pribumi Amerika lah yang mengetahui tanaman tembakau ini.

Menurut para pakar Arkeologi, bahwa 4000 tahun yang lalu bahkan ribuan tahun sebelumnya suku Indian Amerika Utara sudah menggunakan tembakau. Penggunaan tembakau tersebut digunakan masih sebatas media alternatif pengobatan saja. Rokok awal mulanya hanya berupa tembakau yang diletakkan ke sebuah pipa lalu dibakar dan dihisap dengan mulut melalui pipa tersebut. Dan fungsi dari rokok ini adalah sebagai teman ngobrol. Sehingga dapat dikatakan bahwa saat itu, mereka menggunakan atau menghisap rokok hanya ketika mereka sedang berkumpul dan bercengkerama dengan masyarakat sekitar atau dengan suku lainnya untuk mempererat persaudaraan. Maka dari itu, tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa rokok memiliki filosofi sebagai pererat tali silaturahmi.

Baca juga: Sejarah Jembatan Ampera

Bukan hanya sebagai pererat tali silaturahmi. Tembakau yang digunakan pada rokok tersebut juga dapat digunakan sebagai obat alternatif pada masa itu. Dengan menumbuk tembakau lalu diolesi ke bagian luka pada kulit manusia, tembakau itu dapat menyembuhkan luka alias mengeringkan luka yang basah. Bahkan pada masa itu, suku Indian menggunakan rokok sebagai media perantara kepada dewa-dewa mereka. Sehingga, ketika mereka sedang ritual, mereka akan selalu membakar rokok mereka dan mencoba menyampaikan harapan-harapan mereka melalui asap rokok yang telah dihirupkan ke langit-langit.

Abad Ke-16

Rokok memang berawal dari suku Indian yang mencoba memperkenalkan kepada orang-orang sekitar, atau orang-orang yang berkunjung ke wilayah mereka. Seperti halnya pada Christoper Colombus beserta rombongannya pada abad ke-16. Ia yang melanglang buana mengelilingi dunia, mampir ke suku Indian untuk bersinggah sejenak. Nah, di sanalah ia mulai diperkenalkan adanya rokok oleh suku Indian. Ia dan rombongan mulai mencicipi untuk menghisap tembakau atau menghisap rokok yang diberikan dari kepala suku Indian.

Ada yang berpendapat khususnya para pelaut Spanyol kalau kata ‘tembakau’ berasal dari nama pulau Tobago. Dulunya para pelaut Spanyol ini dikenal dengan sebutan ‘Pelaut Ekspedisi Colombus’. Kata ‘Tobaco’ berasal dari warga sekitar yang sedang melinting daun dengan ukuran besar. Mereka sedang melakukan ritual merokok. Saat itu, Colombus bertemu dengan salah seorang tua yang sedang merokok, atau saat itu disebut dengan sebutan ‘injun’. Karena penasaran, dan warga setempat melihat Colombus penasaran dengan kegiatan ‘injun, maka warga setempat pun mulai menawarkan kepada Colombus.

Baca juga: Sejarah Catur

Clombus pada masa itu sebagai kapten kapal, tidak bisa menolak tawaran dari warga setempat, hingga ia mulai mencoba untuk ‘merokok’ pertama kali. Pertamanya mereka hanya sekadar mencoba saja, namun, lama kelamaan mereka ketagihan dan tertarik untuk mencobanya lagi. Akhirnya mereka berniat untuk membawa budaya tersebut yaitu budaya hisap tembakau ke benua mereka yaitu Benua Eropa.

Mereka membawa sebagian daun tembakau itu untuk ditanam di tanah mereka. Saat itu mereka adalah orang-orang Eropa dan Portugis.  Budaya hisap tembakau pun mulai merambah ke Benua Eropa yang dibawa oleh Christoper Colombus beserta rombongannya. Hingga kemudian, terdapat seorang diplomat asal Prancis. Ia tertarik dengan budaya hisap tembakau ini. Akhirnya ia memutuskan untuk mempopulerkan budaya tersebut ke seluruh Eropa.

Jean Nicot

Diplomat asal Prancis tersebut bernama Jean Nicot. Karena Nicot yang telah mempopulerkan budaya hisap tersebut, maka kemudian muncullah istilah ‘Nikotin’ yang merupakan kandungan dari tembakau pada rokok.  Saat itu, Jean Nicot merupakan Duta Besar Perancis di Pengadilan Portugis pada tahun 1560. Ia telah mencoba mempublikasikan budaya hisap tembakau itu pertama kali ke Ratu Catherine de Medici. Bahkan ia juga merekomendasikan ke sang Ratu bahwa tembakau tersebut dapat dijadikan sebagai obat alternatif untuk migrant atau sakit kepala sebelah. Hingga pada akhirnya, tembakau tersebut mulai tersebar ke seluruh Perancis dan Eropa.

Untuk menghormati jasa Jean Nicot yang sudah menyebarluaskan tanaman tersebut, maka tanaman tersebut diberi nama dari nama panjangnya yaitu ‘Nico’ yang kemudian digubah ke nama latin yaitu ‘Nicotiana’. Istilah latin tersebut dipisahkan pada awal abad ke-19 alkaloid, dan menjadi ‘nicotin’.  Nah, sudah tahukan, kenapa ada istilah ‘Nikotin’ yang merupakan kandungan dari tembakau rokok? Asal mulanya ya karena orang yang bernama Nicot inilah yang mempopulerkan hisap tembakau ini.

Karena adanya perkenalan budaya hisap tembakau yang diperkenalkan oleh Nicot ini, akhirnya para bangsawan Eropa pun mulai mencoba melakukan budaya hisap rokok. Pada akhirnya, kebiasaan merokok pun mulai ada yang saat itu hanya sebatas kalangan bangsawan Eropa saja, karena pada kalangan menengah ke bawah belum sanggup untuk membeli tembakau yang  digunakan pada rokok.

Pada masa itu, tembakau yang semakin populer ini bukan dikenal sebagai bahan baku rokok, melainkan sebagai obat alternatif yang sangat mujarab. Hingga pada akhirnya, banyak orang yang mulai menggunakan tembakau ini dengan cara mendengus, yaitu merokok dengan pipa atau cerutu. Bahkan pada masa itu pun, tembakau digunakan dengan cara dikunyah, atau dicampur dengan bahan lainnya untuk penyembuh penyakit.

Kalangan Bangsawan Eropa

Tidak seperti suku Indian, para bangsawan Eropa menghisap rokok ini hanya sebatas untuk kesenangan, kepuasan, dan model trendy saja pada masa itu. Berbeda dengan suku Indian yang memiliki budaya hisap rokok sebagai media ritual untuk berdoa kepada para dewa. Dan juga sebagai silaturahmi antar suku. Seiring berjalannya waktu, rokok mulai populer hingga ke pelosok-pelosok Eropa. Hal ini membuat seseorang memunculkan inovasi dan ide dalam menggapai rezeki melalui peluang.

Baca juga: Sejarah Gitar

John Rolfe yang merupakan bangsawan sekaligus pengusaha di Eropa, mulai tertarik dengan peluang dari rokok ini. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk membudidayakan tembakau, agar ia dapat menjadi produsen tembakau yang mana kini menjadi konsumsi mereka para bangsawan Eropa. Pada awal abad ke-17, wilayah Amerika Modern, khususnya daerah colonial Inggris, tepatnya pada tahun 1611 terdapat perkebunan tembakau yang sangat besar di Virginia, Inggris. Kebun tersebut adalah milik John Rolf.

Ia mendapatkan benih tembakau yang ia impor dari Trinidad dan Venezuela. Ia juga meminjam alat teknologi untuk berkebun milik Walter Raleigh. Hingga 8 tahun kemudian ia berkebun, ia mulai mengekspor hasil panennya dari Virginia ke Inggris. Dari waktu ke waktu, John Rolfe terus meningkatkan perkembangan budidaya tembakaunya dengan cara memperluas lahan ladang tembakau miliknya dengan panen yang berjumlah skala besar. Sehingga, membuat John Rolfe ini menjadi orang pertama di dunia yang memiliki ladang tembakau terluas.

Tak hanya sebatas Eropa saja. John Rolfe yang ingin meraup untung lebih banyak lagi, ia mencoba memperluas jaringannya. Hingga ia mencoba untuk memulai jalur perdagangan tembakaunya ini hingga ke Amerika. Secara pengetahun ilmiah, mengenai perdagangan dan pengiriman tembakau dari Amerika Serikat ke Eropa terdapat buku petunjuk bertanam tembakau yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1855 di Inggris.

Dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, perdagangan rokok pun mulai tersebar ke mana hingga ke belahan dunia manapun. Pada akhirnya terdapat pedagang dari Spanyol yang masuk ke Negara Turki dan memasarkan rokok yang ia dagangkan. Karena Turki merupakan Negara Islam, maka akhirnya budaya merokok pun juga mulai digunakan oleh orang-orang Islam. Di akhir hayatnya, ia bersama istrinya yang merupakan putri kepala India merupakan dunia yang baru bagi dirinya.

Sejarah Rokok Kretek di Indonesia

Tadi, kita sudah memaparkan bagaimana sejarah rokok itu terjadi, dan bagaimana asal mulanya hingga rokok dapat tersebar ke seluruh dunia. Jadi, setelah rokok mulai tersebar yang diawali oleh bangsa Eropa, Indonesia pun juga mulai merasakan penyebaran budaya merokok ini. Budaya ini bermula dari kota Kudus. Tak heran bukan, kalau kita sering melihat pada kemasan rokok yang mana kota yang banyak memproduksi rokok adalah kota Kudus. Memang masih simpang siur sejarahnya, bagaimana rokok ini bisa tersebar hingga ke kota Kudus ini. Bahkan masih belum jelas juga, bagaimana terjadinya kok rokok di Indonesia alias kota Kudus ini mulai menggunakan rokok kretek.

Terjadinya Rokok Kretek

Namun, jika ditanyakan kepada para pekerja pabrik rokok, mereka akan menjawab bahwa rokok kretek ini berawal dari Haji Djamari pada akhir abad ke-19. Haji Djamari melakukan penemuan dan percobaan tentang bahan rokok ini. Perbedaan rokok kretek dengan rokok dari Eropa yang tersebar itu terletak dari bahan yang digunakan padsa rokok. Rokok dari Eropa hanya sebatas tembakau saja, sedangkan rokok yang dimiliki Indonesia ini merupakan rokok yang bahannya terdapat campuran cengkeh dan tembakau yang dijadikan satu dalam silinder rokok. Inilah asal mula nama ‘Rokok Kretek’

Baca juga: Peninggalan Kerajaan Majapahit

Haji Djamari melakukan percobaan ini karena adanya penduduk asli Kudus yang mulai merasakan sesak dada ketika menghisap rokok dari Eropa. Ketika Haji Djamari dipanggil untuk mengobati penduduk terdebut, Haji djamari mengolesi minyak cengkeh tersebut ke dada orang tadi. Alhasil, dada orang tersebut sudah tidak merasa sesak lagi. Ia bisa bernafas dengan normal kembali. Haji Djamari juga terkejut bukan main khasiat dari cengkeh itu.

Hingga akhirnya, Djamari mencoba bereksperimen dengan mencampurkan tembakau dengan cengkeh yang dicacah halus dan dilinting dengan kertas kretek. Alhasil, rokok buatannya lebih harum dan tidak membuat tenggorokan sakit. Perlu diketahui bahwa pada masa itu, melinting bukanlah kegiatan seorang pria.

Dari waktu ke waktu, Djamari pun mulai terbiasa dengan menghisap rokok hasil temuannya sendiri. Dan ia juga merasakan kalau sakitanya juga mulai hilang. Ia pun mulai memberitahukan tentang penemuannya tersebut ke salah satu temannya.  Berita mengenai rokok ciptaan Djamari yang bisa menyembuhkan penyakit pun mulai tersebar ke mana-mana. Hingga rokok ciptaan Djamari pada masa itu dikenal dengan istilah ‘Rokok Obat’.

Nama dari ‘Rokok Kretek’ ini dikarenakan adanya bunyi pada rokok yang terbakar. Jadi, dari tahun ke tahun Djamari mulai banyak pesanan ‘rokok obat’nya. Banyak yang meminta untuk dibuatkan dan banyak yang membeli ‘rokok obat’ tersebut ke Djamari. Nah, rokok buatan Djamari yang terbuat dari campuran tembakau dan cengkeh ini ternyata memiliki keunikan yaitu selalu mengeluarkan bunyi ‘keretek’ saat cengkeh dibakar. Hingga pada akhirnya, rokok ini pun dinamakan dengan ‘Rokok Kretek’.

Dulu, awalnya rokok kretek ini dibungkus dengan menggunakan klobot atau daun jagung yang sudah kering. Dan klobot tersebut telah dijualnya per ikat. Dengan jumlah per ikat adalah 10 linting. Klobot tersebut dijual tanpa menggunakan kemasan apapun. Hanya kosongan atau polosan lalu diberikan kepada para pelanggan yang meminta untuk dibuatkan rokok kretek. Hingga rokok kretek pun akhirnya mulai terkenal ke seluruh pelosok Indonesia.

Djamari dipercayai meninggal pada tahun 1890. Untuk identitas dan bagaimana asal-usul Djamari, masih belum jelas sejarahnya. Namun demikian, hasil karyanya masih bisa dinikmati hingga sekarang. Itulah kekuatan sebuah karya yang mengabadikan orang yang berkarya.

Nitisemito

10 tahun setelah kematian Djamari, hasil karya Djamari pun dilanjutkan oleh Nitisemito yang merupakan salah seorang perintis industri rokok di Kudus. Usaha rokok yang dimiliki Nitisemito berdiri sejak tahun 1906 dan mulai sah secara resmi pada tahun 1908. Bisnisnya terdaftar dengan merk ‘Tjap Bal Tiga’. Banyak yang menyangka bahwa tonggak atau pondasi dari industri rokok retek di Indonesia ini adalah Nitisemito.

Sebenarnya rokok yang dibungkus dengan menggunakan daun jagung kering, banyak juga yang mempercayai bahwa ada juga yang menggunakan rokok dengan bungkus daun jagung kering atau rokok ‘klobot’ jauh sebelum Haji Djamari hidup. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, sejarah ‘rokok klobot’ ini sudah tercatat dalam kisah Roro Mendut. Roro Mendut merupakan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno yang merupakan salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung. Pada masa itu, Roro Mendut menjual rokok klobot ini. Dan pada saat itu, kebanyakan para laki-laki yang membelinya, karena saat bungkus rokok direkatkan, Roro Mendut merekatkan dengan menggunakan ludahnya.

Filosofi Rokok

Rokok tak hanya dihisap, dihirupkan dan diperdagangkan, melainkan rokok juga memiliki filosofi yang bermakna dalam setiap proses rokok. Berikut filosofi dari rokok di antaranya:

  • Mempererat Tali Silturahmi

Seperti asal mula dari rokok pada awalnya, bahwa rokok ini digunakan atau dihirup ketika terjadi pertemuan antar suku. Hal ini dikarenakan sebagai teman ngobrol dan untuk mempererat tali silaturahmi sesama manusia sebagai makhluk sosial.

  • Mengajarkan Ikhlas

Pernahkah Anda berpikir dan memandang orang merokok? Di situ terlihat, bahwa ketika ia melepaskan asapnya dari mulut atau hidung, asap-asap itu tersebar ke udara dan lama kelamaan akan lenyap. Hal ini dapat diibaratkan dengan harta benda. Harta benda yang awalnya kita miliki ini suatu saat akan hilang dan bukan kita pemiliknya. Maka kita harus ikhlas menerima, bahwa barang itu sudah bukan milik kita lagi.

  • Solidaritas

Merokok ini mengajarkan seseorang dalam sikap solidaritas yang tinggi. Banyak yang mengatakan bahwa dengan saling berbagi rokok, adalah bentuk dari kesolidaritasan sesama manusa dalam bentuk persaudaraan. Bahkan ada yang menyebutkan seperti ini, “Bagi-bagi penyakit aja pelit, apalagi bagi kesehatan.” Istilah tersebut dapat diartikan, bahwa ketika ada orang yang pelit dengan rokoknya, itu menandakan bahwa ia tidak solid alias pelit.

  • Kewajaran Hidup

Jika Anda pernah berkunjung ke salah satu pabrik rokok, maka Anda akan melihat kewajaran hidup ada di sana secara sistematis. Karena apa? Di sana Anda akan melihat para pekerja rokok yang tengah melinting rokok dan mengisi tembakau layaknya sebuah mesin pembuat rokok. Hal ini memberikan makna sistematis bahwa, “Harus ada yang dikerjakan, agar hidup dapat berjalan wajar.”

Itulah sejarah rokok dan juga tambahan dari filosofi dan makna dari rokok. Walaupun rokok memiliki sejarah yang bagus dan filosofi yang bermakna positif, namun ada baiknya kita dapat menyikapi adanya rokok ini dengan baik. Dengan cara jika kita perokok, maka kita harus menghargai orang yang tidak merokok. Begitu pun sebaliknya. Agar kehidupan dapat berjalan damai dan tentram.

Itulah tadi informasi dari agen idn poker mengenai Definisi, Sejarah dan Filosofi Rokok Didunia oleh - sejarahmajapahit.xyz dan sekianlah artikel dari kami sejarahmajapahit.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Saturday, July 25, 2020

7 Daftar Di Museum Gajah Jakarta dan Penjelasannya oleh - sejarahmajapahit.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sejarahmajapahit.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar 7 Daftar Di Museum Gajah Jakarta dan Penjelasannya oleh - sejarahmajapahit.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Museum Nasional Republik Indonesia yang juga dikenal sebagai Museum Gajah merupakan sebuah museum arkeologi, sejarah, geografi dan etnografi yang terletak di Jakarta Pusat. Lokasi tepatnya berada di Jalan Merdeka Barat 12, dan merupakan museum pertama serta terbesar di Asia Tenggara. Nama Museum Gajah berasal dari patung gajah yang merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailang di tahun 1871, dan dipajang di halaman depan museum. Sejak 28 Mei 1979, nama resmi museum adalah Museum Nasional Republik Indonesia. Sejarah museum Gajah bermula pada 24 April 1778 ketika pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Batavia).

Lembaga ini menjadi pelopor berdirinya Museum Gajah dan juga Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ketua Perkumpulan, J.C.M. Radermacher menyumbang gedung berlokasi di jalan Kalibesar bersama koleksi buku dan benda â€" benda budaya. Di masa pemerintahan Sir Thomas Stanford Raffles yang berasal dari Inggris, ia juga menjadi Direktur perkumpulan tersebut. Sir Thomas memerintahkan pembangunan gedung baru di Jalan Majapahit no.3 yang kemudian digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society.

Pada tahun 1862 koleksi museum sudah memenuhi gedung di Jalan Majapahit, maka dalam sejarah museum Nasional Indonesia, pemerintah Hindia Belanda mendirikan gedung baru yang ditempati hingga kini, yang dibuka untuk umum pada 1868. Setelah kemerdekaan, museum diserahkan kepada pemerintah RI oleh pengelolanya yaitu Lembaga  Kebudayaan Indonesia pada 17 September 1962. Pengelolaan museum kemudian dilakukan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, dibawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Koleksi Di Museum Gajah

Koleksi museum Gajah banyak berasal dari benda â€" benda kuno dari seluruh Indonesia seperti arca â€" arca kuno, prasasti dan benda â€" benda kuno serta barang kerajinan lain. kategori koleksi Museum Gajah adalah ernografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, buku â€" buku langka dan benda berharga. Hingga tahun 2016 dalam website resmi museum dicantumkan jumlah koleksi sudah mencapai 140 ribu benda. Koleksi Museum Gajah dalam sejarah museum nasional terdiri dari tujuh kategori sebagai berikut:

1. Arkeologi

  • Salah satu Koleksi Di Museum Gajah atau koleksi museum Nasional dalam bidang arkeologi adalah relief dari Candi Pulo yang berasal dari abad ke 13 â€" 14 Masehi dan berasal dari Padang, Sumatra Barat. Candi Pulo adalah salah satu peninggalan sejarah yang terbuat dari batu berdisain rumit dan dibangun oleh pengikut Buddha di Padang Lawas. Daratan Padang Lawas artinya padang luas yang terbentang antara dua pegunungan di Sumatra. Disini juga merupakan tempat asal Patung Adityawarman yang berukuran besar ditemukan. Masyarakat pada masa itu tampaknya mempraktekkan aliran Buddhisme Vajrayana yang terindikasi berhubungan dengan sekte di Nepal dan Srilanka.
  • Koleksi Museum Gajah lainnya dalam bidang arkeologi adalah relief dari abad ke 14 berupa seorang laki â€" laki yang bertopi “tekes” dan diduga sebagai Raden Panji bersama seorang pengiringnya yang ditemukan di Jawa Timur. Cerita Panji adalah cerita asli Indonesia mengenai Raden Panji (Kudawaningpati/Inu Kertapati), putra mahkota Kerajaan Jenggala. Cerita berkembang pada abad ke 12 M yang dikenal di pulau Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi, bahkan hingga ke Thailang, Vietnam dan Myanmar.

2. Etnografi

  • Koleksi Di Museum Gajah ini disebut Cili berupa bentuk wanita yang sedang bergelung dan dianggap sebagai simbol dari Dewi Sri, Dewi Kesuburan. Bentuk ini biasanya dibuat dari anyaman daun pandan atau daun lontar, ditempatkan di atas sesaji dan dibawa ketika upacara tertentu atau sebagai hiasan pada lamak, salah satu dekorasi bebantenan yang ada di Bali.
  • Koleksi etnografi lainnya adalah mahakarya kain tenun dari Minahasa tahun 1880 yang sangat langka. Jumlahnya tidak mencapai sepuluh buah di Indonesia dan hanya tersisa dua kain bentenan yang disimpan di Museum Nasional. Kain ini dianggap sakral karena hanya digunakan oleh kalangan tertentu pada waktu tertentu pula. Dulu kain ini adalah pakaian adat pada pemimpin adat (Tonaas) dan Pemimpin agama (Walian) yang digunakan dalam berbagai upacara adat.

3. Geografi

  • Peta Selat Sunda yang menjadi koleksi Museum Gajah dibuat pada abad ke 17 dan berasal dari Leiden, Belanda. Peta ini dibuat oleh Pierre van de A.A pada tahun 1729 menggunakan warna untuk menunjukkan kedalaman laut di Selat Sunda, tetapi tidak mengikuti panduan kartografi secara akurat. Peta ini menggambarkan kedalaman laut di sekitar pulau Sumatra, Jawa dan pulau kecil di dekatnya termasuk Selat Sunda, Pulau Panaitan dan Krakatau sebelum letusan gunung berapi di tahun 1883.
  • Koleksi lainnya adalah Globe yang berasal dari Eropa abad ke 18 yang menggambarkan negara â€" negara dari lima benua yaitu Asia, Afrika, Amerika, Eropa dan Australia. Selain itu juga berisi informasi mengenai ekspedisi pelayaran, astronomi, arah kompas dan lainnya. Juga ada senjata api berupa pistol yang digunakan sebagai alat navigasi, untuk keamanan dan memberikan sinyal ketika kapal berlayar ke pelabuhan.

4. Keramik

Koleksi keramik pada museum di Jakarta yang terbesar ini salah satunya berupa piring dari Dinasti Ming di Cina pada abad ke 17 ini besar dan dilapis cat enamel yang dikenal sebagai wu t’sai (lima warna). Pada piring ini juga terdapat kaligrafi Arab yang dilukis dengan ahli. Diklasifikasikan sebagai Swatow Good yang menunjukkan keramik Cina yang diekspor pada abad ke 16 dan 17 dari pelabuhan Shantou, Guangdong, Cina.

5. Numismatik & Heladrik

  • Sepasang cetakan koin Kasha berasal dari tahun 1851 M di Aceh. Di permukaannya memiliki enam sisi koin berbeda dari tiga koin yang dibuatnya. Dalam tiga sisi koin tersebut terdapat huruf Arab yang dibaca “wau” dan tahun Islam 1276 H dalam posisi terbalik dan lingkaran kecil. Dalam cetakan lain di sisi koin terdapat huruf Arab “Bandar Aceh Darassalam” dalam lingkaran kecil dan posisi terbalik. Cetakannya memiliki wadah air untuk menempatkan logam cair dan lubang kecil untuk mengikatnya agar tidak bergeser ketika cetakan ditaruh menghadap ke bawah.
  • Ada pula koleksi Museum Gajah berupa rupiah Gulden yang berasal dari tahun 1857 dari Utrecht, Belanda. Satu sisi dari seperempat koin ini memuat teks Arab Malaysia, lainnya dalam bahasa Belanda dengan tanda mahkota Belanda. Ini adalah contoh dari koin yang terbuat dari mesin.

6. Prasejarah

Beberapa koleksi Museum Gajah dari zaman prasejarah yaitu:

  • Beliung â€" Berasal dari zaman Neolitik berupa kapak Chalcedon yang digunakan sebagai alat bertani dan juga untuk barter atau upacara tertentu.
  • Kendi â€" Berasal dari zaman Peleometalik di Palembang, Sumatra Selatan berbahan tanah liat dan memiliki motif ameander di bagian leher dan digunakan sebagai alat upacara atau objek barter.
  • Kapak Upacara â€" Ditemukan di Rote, Indonesia Timur, koleksi Museum Gajah ini terbuat dari perunggu berupa kapak bergagang panjang dan melengkung yang ditempa bersama dengan kepala kapak. Bagian atasnya berbentuk seperti piringan dan didekorasi dengan pola seperti gigi. Pedangnya mirip kipas dengan desain berkepala besar dan tubuh kecil.
  • Gelang â€" Koleksi Museum Gajah berasal dari masa Paleolitik di Lomben, Nusa Tenggara Timur. Gelang perunggu ini memiliki motif tumpal dan digunakan untuk perhiasan untuk menunjukkan status sosial dan sebagai objek upacara.

7. Sejarah

Koleksi sejarah dari Museum Gajah ini berupa benda â€" benda yang mengandung nilai sejarah Indonesia beserta peninggalan dari masa penjajahan Eropa di Indonesia sejak abad ke 16 hingga abad ke 19. Beberapa koleksi Museum Gajah tersebut adalah:

  • Meriam perunggu berjenis Meriam Bumbung yang berasal dari Solo, Jawa Tengah abad ke 18. Meriam telah dikenal sejak abad ke 16 ketika Portugis datang ke Indonesia. Kata ‘Meriam’ berasal dari bahasa Portugis merujuk kepada Santa Mariam, Maria yang Suci karena prajurit Portugis selalu meminta perlindungan darinya di waktu berperang.
  • Padrao yang ditemukan di Jalan Cengkeh, Jakarta berasal dari abad ke 16 berupa batu yang dipahat untuk merayakan persetujuan antara Portugis dan Kerajaan Sunda yang ditandatangani pada 21 Agustus 1522. Perjanjian itu mengizinkan Portugis untuk mendirikan kantor dagang dalam bentuk benteng di Sunda Kelapa. Ketahui juga mengenai sejarah museum Bahari di Jakarta, sejarah museum Galeri Nasional dan sejarah museum Joang 45 di Jakarta.

Beberapa barang yang sudah diuraikan di atas adalah sebagian dari koleksi Museum Gajah yang sangat banyak. Koleksi â€" koleksi utama inilah yang menarik banyak perhatian pengunjung dan menjadi daya tarik museum yang sangat berguna untuk berfungsi sebagai pendidikan sejarah bangsa Indonesia. Museum dapat dikunjungi pada Selasa â€" Jumat pukul 08.00 â€" 16.00, Sabtu â€" Minggu pukul 08.00 â€" 17.00, tutup hari Senin dan hari besar nasional. Tiket masuknya untuk pengunjung dewasa perorangan adalah 5000 rupiah dan 2000 rupiah untuk anak â€" anak. Pengunjung rombongan dengan minimal jumlah 20 orang bertarif 2000 rupiah untuk dewasa dan 1000 rupiah untuk TK hingga usia SMA. Sedangkan pengunjung asing diberi tarif 10000 rupiah.

Itulah tadi informasi dari idn poker mengenai 7 Daftar Di Museum Gajah Jakarta dan Penjelasannya oleh - sejarahmajapahit.xyz dan sekianlah artikel dari kami sejarahmajapahit.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Monday, July 20, 2020

Zaman Kuarter – Ciri-Ciri dan Periode Pembagiannya oleh - sejarahmajapahit.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sejarahmajapahit.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Zaman Kuarter â€" Ciri-Ciri dan Periode Pembagiannya oleh - sejarahmajapahit.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Zaman Kuarter adalah sebuah zaman dimana merupakan sebuah kehidupan manusia yang lebih sempurna dibandingkan sebelumnya. Zaman Kuarter merupakan sebuah zaman yang paling penting, dimana mulai adanya kehidupan manusia yang lebih sempurna, layaknya kehidupan kita saat ini. Dan zaman berikut terjadi jauh sebelum peristiwa bubat pada zaman kerajaan majapahit. Zaman ini dimulai kira-kira 600 ribu tahun yang lalu, dimana pada Zaman Kuarter ini telah terbagi menjadi 2 periode, yakni zaman Pleistosen (Dilluvium) serta zaman Holosen (Alluvium). Untuk kala Plistosen ini dimulai sekira 1.8 juta tahun yang lalu, dan berakhir sekitar 10.000 tahun yang lalu. Setelah itu, dilanjutkan oleh Kala Holosen yang berlangsung hingga saat ini. Ciri-Ciri manusia di Zaman Kuarter
  • Sudah adanya manusia modern (Homo Sapiens)
  • Keadaam alam saat itu masih liar dan juga labil.
  • Zaman Kuarter ini berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu
  • Daratan di Bumi masih diselimuti es dan mencair pada akhir kala pleitosen
  • Daratan di Bumi mulai terpecah dikarenakan es yang mencair
  • Manusia pada zaman ini sudah punah
  • Zaman Kuarter dibagi menjadi 2 masa, yakni zaman Holocen (Holosin) dan zaman Plesitosen
Periode Pembagian Zaman Kuarter Untuk mengetahui lebih jauh mengenai dua periode dalam Zaman Kuarter kali ini, anda bisa menyimak ulasan selengkapnya dibawah ini:

1. Kala Pleistosen (Diluvium)

Kala Pleistosen ini maksudnya adalah sebagian besar kehidupan sama dengan yang hidup saat ini. Dalam periodenya sendiri, kala ini belangsung sejak 1,8 hingga 0,01 juta tahun yang lalu. Sejumlah fosil pada kala ini yang paling banyak diperagakan diantaranya:
  • Fosil gajah (Stegodon trigonocephalus MARTIN)
  • Kerbau (Bulbalus palaeokerabau FALCONER) dari Bumiayu (Banyumas)
  • Banteng (Bibos sp.) dari Rembang
  • Harimau (Felis sp.) dari Watualang (Ngawi) yang berbentuk fragmen
  • Fosil manusia purba Homo erectus dari Sangiran (Solo)
Zaman Glasial merupakan zaman dimana lapisan es di Kutub Utara telah meluas hingga wilayah Eropa dan Amerika Bagian Utara tertutup oleh es tersebut. Sementara daerah yang letaknya jauh dari Kutub mengalami hujan yang sangat lebat selama bertahun-tahun. Permukaan laut saat itu mengalami penurunan diiringi dengan permukan Bumi yang naik disejumlah tempat. Dan peristiwa tersebut terjadi setelah kejadian alam besar yang bisa ditemukan dalam ciri zaman mesozoikum. Hal ini bisa terjadi lantaran pada saat itu pegeseran Bumi serta adanya aktivitas dari Gunung berapi, banyaknya hutan, dan menjadikan negara kita Indonesia saat itu mengalami kekeringan. Akibatnya, hal ini memunculkan Paparan Sunda (Sunda Plat) dan juga Paparan Sahul (Sahul Plat). Sementara untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, serta Malayia Barat bergabung dengan Filipina dan Formossa, Taiwan, serta kemudian ke Benua Asia. Begitu pun dengan Sulawesi melalui Minahasa, Pula Sangir dilanjutkan ke negara Filipina. Lalu antara wilayah Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ini pun saling berhubungan melalui Nusa Tenggara. Pada permulaan Zaman Kuarter ini, muncullah zaman es pertama, dan saat itu suhu bumi menurun dengan sangat drastis dan gletser telah menutupi sebagian besar daratan yang ada di Asia, hal ini pun mengakibatkan banyak air laut yang terambil serta permukaan air laut menjadi turun. Ciri-Ciri Kala Pleitosen :
  • Zaman ini berlangsung sekitar 18.000.0000 tahun yang lalu
  • Mulai munculnya kehidupan
  • Pada masa ini, silih berganti zaman interglasial dan glasial. Untuk zaman glasial ini adalah meluasnya lapisan es di kutub utara dan juga daerah yang jauh mengalami hujan yang lebat dengan kurun waktu yang lama, permukaan air laut saat itu turun di iringi dengan naiknya daratan.  Sementara untuk zaman interglasial ini berada di antara zaman gasial, yakni temperature naik sehingga menjadikan laipsan di kutub utara jadi cair
  • Terjadi perpindahan manusia purba dari Asia ke Indonesia
  • Hewan dengan bulu tebal yang bisa bertahan dalam masa ini, sementara hewan berbulu tipis berpindah ke daerah tropis
Dalam Kala Pleitosen ini, zaman telah dibagi menjadi 3 lapisan, diantaranya sebagai berikut:
  • Lapisan atas atau lapisan Ngandong.
  • Lapisan tengah atau Lapisan Trinil.
  • Lapisan bawah atau lapisan Jetis

2. Kala Holosen

Selanjutnya ada Kala Holosen yang meripakan jaman generasi kedua dalam Zaman Kuarter kali ini. Kala ini dalam skala waktu geologi berlangsung mulai sekitar 10.000 tahun radiokarbon, kurang lebih 11.430 atau setara 130 tahun kalender yang lalu (antara 9560 sampai dengan 9300 SM). Perlu kalian ketahui, jika Holosen merupakan Kala keempat dan juga terakhir dalam periode Neozoikum. Kala Holosen atau Alluviym, merupakan kala dimana manusia telah resmi merajai dunia, dimana hal ini dimulai 0,01 juta (10 ribu) tahun silam. dan dari kala inilah mulai diperagakan sejarah budaya manusia, seperti zaman Paleolitikum (Zaman Batu Purba) hingga Zaman Neolitikum (Zaman Batu Baru) yang telah berhasil ditemukan di Punung (Pacitan, Jawa Timur) serta Dago (Bandung, Jawa Barat). Ada beberapa barang peninggalan zaman neolitikum yang masih bisa dinikmati bentuknya sampai sekarang pada museum di Indonesia ataupun dunia. Dalam masa ini, sebagan besar es di kutub utara telah lenyap, dan hal ini menyebabkan permukaan air laut naik lagi. berbagai daratan rendah yang ada di Paparan Sunda serta Paparan Sahul pun mulai tergenang air. Manusia Purba lenyap, dan muncullah manusia cerdas seperti manusia pada saat ini. Ciri-Ciri Kala Holosen :
  • Sebagian besar es yang berada di Kutub ini lenyap, serta permukaan air laut pun naik
  • Hewan-hewan besar sepeti Sabre-tooth, Mammoth, Mastodon, Bdak Berbulu, Glyptodon, serta Giant Sloth telah menghilang
  • Daerah dataran rendah mulai tergenang air, lau mulai teragresi, hingga munculah pulau-pulau yang ada di Nusantara
Nah itu tadi sedikit ulasan tentang Zaman Kuarter yang bisa kami sampaikan untuk anda semua. Kemungkinan pembahasan kita kali ini masih belum lengkap, karena memang jika membicarakan tentang sejarah tidak ada habisnya. Cukup sekian dulu ulasan dari kami kali ini, semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan anda. Untuk melihat beberapa barang peninggalan bisa langsung kunjungi beberapa tempat yang menyediakan, seperti museum di kota tua, koleksi museum bali, hingga koleksi museum brawijaya malang pun juga menyediakan.

Itulah tadi informasi dari judi online mengenai Zaman Kuarter â€" Ciri-Ciri dan Periode Pembagiannya oleh - sejarahmajapahit.xyz dan sekianlah artikel dari kami sejarahmajapahit.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Wednesday, July 15, 2020

Silsilah Kerajaan Demak Sebagai Kerajaan Islam Pertama oleh - sejarahmajapahit.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sejarahmajapahit.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Silsilah Kerajaan Demak Sebagai Kerajaan Islam Pertama oleh - sejarahmajapahit.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Kerajaan Demak atau Kesultanan Demak merupakan bagian dari sejarah kerajaan Islam di Indonesia sebagai kerajaan Islam yang pertama dan terbesar di pantai utara Jawa. Sesuai dengan tradisi Jawa, sebelumnya Demak adalah kadipaten dari Majapahit sebagai kerajaan hindu- budha yang muncul sebagai kekuatan baru yang mewarisi kekuatan Kerajaan Majapahit.

Demak tercatat sebagai pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Para Wali Songo disebut â€" sebut berjasa dalam pendirian Kerajaan Demak, karena dalam upaya menyiarkan agama Islam mereka menjadikan Demak sebagai pusatnya.

Atas dukungan para wali songo khususnya Sunan Ampel, Raden Patah ditunjuk sebagai penyiar agama Islam di Demak. Ia adalah keturunan Majapahit yang menikah dengan putri dari Campa.

Raden Patah juga membuka pesantren yang berlokasi di Glagah Wangi, yang segera saja mengundang minat masyarakat. Perlahan desa tersebut berubah menjadi pusat perdagangan, dan berkembang menjadi Kerajaan Demak.

Secara resmi Kerajaan Demak resmi berdiri beberapa waktu setelah kerajaan Majapahit runtuh, yaitu pada tahun 1481 M atau 1403 Saka. Daerah kekuasaannya mencakup kota Banjar, Palembang, Maluku dan bagian utara pantai pulau Jawa.

Silsilah Raja â€" Raja Kerajaan Demak

Pada awalnya Kerajaan Demak hanya terdiri dari wilayah seperti Glogoh atau Bintoro yang masih menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Setelah kekuasaan Majapahit runtuh, Kerajaan Demak perlahan â€" lahan mulai menampakkan potensinya sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk berkembang menjadi kota besar dan pusat perdagangan berkat usaha para Wali Songo dan menjadi bagian dari sejarah Islam di Indonesia.

Pada saat itu wilayah â€" wilayah Majapahit yang tersebar atas kadipaten bahkan saling serang demi klaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Sementara pada saat itu Demak adalah wilayah yang mandiri, dan dianggap sebagai penerus langsung Majapahit melalui Raden Patah yang menjadi putra terakhir Majapahit.

Demak juga menjadi kerajaan di Indonesia yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan wilayah timur nusantara. Silsilah kerajaan Demak dimulai dari pendirinya, yaitu Raden Patah.

1. Raden Patah

Raden Patah adalah putra dari Raja Brawijaya dari Majapahit dan seorang putri dari Campa. Ia memiliki lima orang anak yaitu Pati Unus, Pangeran Sekar Seda Lepen, Sultan Trenggana, Raden Kanduwuran dan Raden Pamekas.

Raden Patah menjabat sebagai Raja Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar al Fatah atau Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama selama 18 tahun sejak tahun 1500 â€" 1518. Selama masa pemerintahannya, Raden Patah membangun masjid agung Demak dan alun â€" alun di tengah kota Demak.

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, kedudukan Demak sebagai pusat penyebaran agama Islam semakin meningkat. Kekuasaan Demak melebar hingga ke Sukadana (Kalimantan Selatan), dan Jambi hingga Palembang. Kebesaran Demak yang bertambah menyebabkan ancaman terhadapnya juga semakin besar.

Raden Patah kemudian mengutus Pati Unus untuk merebut Malaka dari tangan Portugis, dibantu oleh Aceh dan Palembang. Penyerbuan itu dilakukan pada tahun 1512 dan 1513 dengan 90 buah jung dan 12000 tentara. Namun upaya tersebut gagal karena kekurangan persenjataan.

2. Pati Unus

Anak dari Raden Patah ini adalah Raja Demak yang masa pemerintahannya paling singkat yaitu mulai 1518 â€" 1521. Namun demikian, ia tetap mampu menggertak Portugis dengan upayanya tersebut.

Gelar Pangeran Sabrang Lor (Pangeran yang pernah menyeberang ke Utara) diberikan kepadanya karena keberanian dalam melawan Portugis untuk merebut Malaka. Pati Unus juga dikenal dengan nama Yat Sun atau Adipati Unus, selain nama aslinya yaitu Raden Surya.

Pada tahun 1521 Pati Unus memimpin penyerbuan kedua ke Malaka untuk melawan Portugis dan gugur dalam pertempuran tersebut. Ia digantikan oleh Sultan Trenggana, adik kandungnya karena tidak memiliki keturunan. Peninggalan kerajaan demak ada pada peninggalan kerajaan Islam di Indonesia dalam sejarah kerajaan Banten.

3. Sultan Trenggana

Sultan Trenggana dalam silsilah Kerajaan Demak dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan membawa Demak mengalami masa kejayaan dibawah pemerintahannya. Wilayah kekuasaan Demak juga meluas hingga ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ia mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Fatahillah pada 1522 untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Pada saat itu Portugis sedang berusaha menjalin hubungan dengan Kerajaan Sunda, dan Sultan Trenggono berusaha mencegah agar Portugis tidak menguasai wilayah Sunda Kelapa dan Banten yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda.

Keberhasilan mengusir orang â€" orang Portugis juga membuat Fatahillah berhasil mengusasai Banten dan Cirebon. Setelah itu, satu persatu daerah kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa Timur juga ditaklukkan seperti Wirosari pada 1528, Tuban pada 1528, Madiun pada 1529, Lamongan, Blitar dan Pasuruan serta Wirosobo pada 1541 â€" 1542.

Mataram, Madura , Blambangan dan Pajang akhirnya juga jatuh kepada kekuasaan Demak. Untuk memperkuat kedudukannya, Sultan Trenggana akhirnya menikahkan putrinya dengan Pangeran Langgar yang menjadi Bupati Madura.

Kemudian putra dari Bupati Pengging yang bernama Tingkir juga dijadikan menantunya dan diangkat sebagai Bupati Pajang. Fatahillah juga dinikahkan dengan adiknya, dan Pangeran Pasarehan (Raja Cirebon) dinikahkan dengan salah satu putrinya yang lain. Masa kekuasaannya dalam silsilah Kerajaan Demak berakhir ketika Sultan Trenggana meninggal pada 1546 ketika sedang bertempur di Pasuruan.

4. Sunan Prawoto

Setelah wafatnya terjadi perselisihan mengenai penerus kerajaan Demak. Perseteruan ini dimulai sejak wafatnya Pati Unus yang tidak memiliki keturunan dan digantikan oleh Trenggana. Walaupun setelah Pati Unus ada Pangeran Seda Lepen (Raden Kikin), ia bukanlah putra dari permaisuri Raden Patah.

Seda Lepen adalah putra dari selir, putri dari Bupati Jipang. Perebutan tahta dimenangkan oleh Trenggana. Prawoto membunuh Raden Kikin untuk mendukung ayahnya.

Oleh karena itu dalam silsilah Kerajaan Demak seharusnya yang menggantikan Sultan Trenggana adalah Pangeran Mukmin atau Pangeran Prawoto sebagai putra tertuanya karena ia adalah keturunan permaisuri. Sunan Prawoto sempat memerintah selama beberapa saat, namun ia lebih nyaman hidup sebagai ulama daripada sebagai raja.

Karena kesibukannya sebagai ulama, satu persatu daerah kekuasaan Demak berhasil berkembang bebas tanpa bisa dihalangi. Dibawah pemerintahannya, pusat pemerintahan Demak dipindahkan ke Prawoto dari Bintoro. Ia bercita â€" cita untuk mengislamkan seluruh Jawa dan ingin memiliki kekuasaan seperti Sultan Turki, menutup jalur beras ke Malaka.

5. Arya Penangsang

Masa pemerintahan Sunan Prawoto berjalan singkat karena ia dibunuh oleh suruhan  Arya Penangsang. Arya Penangsang yang merupakan putra Pangeran Sekar Seda Lepen, saudara Sultan Trenggono kemudian mengambil alih tahta.

Ia juga membunuh putra Pangeran Prawoto, Pangeran Hadiri dan istri Sunan Prawoto melalui orang suruhannya, Rungkud. Pusat pemerintahan dipindahkan oleh Arya Penangsang ke Jipang, dekat Cepu. Walaupun Arya Penangsang yang sudah menjadi Bupati Jipang didukung Sunan Kudus, namun keluarga kerajaan tidak merestuinya.

Ia dikalahkan oleh Ratu Kalinyamat dan Aria Pangiri berkat bantuan dari Jaka Tingkir (Hadiwijaya). Hadiwijaya bersama Ki Gede Pamanahan dan Ki Penjawi berhasil menaklukkan Arya Penangsang. Arya Penangsang dibunuh oleh Danang Sutawijaya, anak angkat Hadiwijaya pada 1549 berkat taktik dari Ki Juru Martani.

Sejak itu wilayah kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang pada 1586. Ini adalah akhir dari kekuasaan Kerajaan Demak dan akhir dari silsilah Kerajaan Demak. Sebagai gantinya, mulailah sejarah dari Kerajaan Pajang pimpinan Joko Tingkir. Kerajaan Demak juga masuk pada sejarah berdirinya Banten yang menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat di Nusantara.

Itulah tadi informasi mengenai Silsilah Kerajaan Demak Sebagai Kerajaan Islam Pertama oleh - sejarahmajapahit.xyz dan sekianlah artikel dari kami sejarahmajapahit.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Sunday, July 12, 2020